Citra F1 Sebagai Olahraga Pria Maskulin


“The Pinnacle of Motorsport,” yang bermakna bahwa itu adalah puncak dari olahraga balap, atau bentuk sebetulnya adalah Formula 1. Dari tahun 1950 hingga sekarang dan terus melaksanakan F1 adalah persaingan balap dengan histori yang mendalam. Sudah nyaris 70 tahun di Formula 1 sebagai persaingan balap dan terhitung punyai judul olahraga balap paling bergengsi di dunia selama periode ini. Citra F1 sebagai olahraga pria dan set jet berbanding lurus dengan mobil balap yang bersaing. Sejak awal, mesin F1 mengerti harus punyai nada menggelegar yang kuat dan keras. Setelah lebih dari satu selagi olahraga tentu saja tidak lagi sama. Sekarang F1 berusaha lebih ramah lingkungan. Sejak 2014, teknologi mesin hybrid telah digunakan. Performa yang dihasilkan selalu terlampau F1. Mobil F1 generasi sekarang bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Tapi apa pun yang terjadi, upayanya untuk “terlihat” lebih cinta dengan lingkungan sebabkan suaranya tidak lagi meraung layaknya sebelumnya. Suara melengking dari penyedot debu selagi ini mengisi konser di berbagai sirkuit legendaris di dunia, membuatnya “mati rasa”.

Penggunaan mesin konfigurasi mesin turbo V6 disepakati hingga musim 2020. Dalam dua musim berikutnya, organisasi Formula 1 harus sanggup dengan mengerti pilih style mesin yang bakal digunakan terasa tahun 2021. Pertanyaannya adalah ke arah mana Formula 1 bakal memimpin? F1 itu sendiri selalu identik dengan mesin berkapasitas tinggi dan pemborosan bahan bakar. Kisah diawali pada tahun 1950, dikala pada selagi itu mesin banyak digunakan dengan kapasitas 1,5 L dengan Super-Charger. Mesin dengan kapasitas ini sebetulnya kecil, tapi mengkonsumsi bahan bakarnya sekitar 150 liter per liter. 100 kilometer atau 0,67 kilometer per hari. Liter. Sosok yang hebat bahkan untuk mobil balap kaliber. Itulah sebabnya F1 pada awalnya terlampau identik dengan set jet dengan segala kekayaannya. Untuk sanggup bersaing, ia harus punyai modal yang terlampau besar.

Selain pengembangan teknik, F1 selalu memimpin pengembangan teknologi otomotif. Tidak jarang terobosan teknologi di dalam persaingan ini secara umum digunakan pada mobil jalanan di semua dunia. Mesin yang digunakan lebih kuat, sebabkan mobil F1 lebih cepat setiap tahun. Konsumsi bahan bakar bahkan lebih ekonomis daripada sebelumnya, sehingga lebih dari satu kalangan yang tidak belok terasa memperoleh akses ke olahraga ini sebagai pesaing. Ketika kami bicara tentang kegembiraan di dalam olahraga ini, tidak hanya lewat sebabkan olahraga ini populer. Deru mesin di belakang pengemudi jadi segi penting di dalam pengembangan olahraga ini. Untuk pecinta balap, deru nada mesin yang berbeda dan karakternya sendiri di setiap mobil merubah acara balap tidak hanya jadi pertunjukan salip yang lewat, tapi terhitung pertunjukan simfoni yang indah, tapi punyai deru nada mesin yang memiliki kwalitas tinggi.

Suara mobil F1 sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor. Jumlah silinder, bentuk konfigurasi mesin, penggunaan turbocharger atau supercharger, kecepatan maksimum mesin dan banyak lagi segi penentu bagaimana mesin “bernyanyi”. Anda sanggup menjelaskan bahwa masa kejayaan no F1 adalah di dalam dekade dari akhir 90-an hingga awal 2000. Mesin konfigurasi V10 mengaum terlampau keras dengan nada tinggi. Mesin 3.0 l dengan tenaga 650 hingga 930 hp menghiasi konser di sirkuit di semua dunia selama 10 musim persaingan F1 sebelum harus diganti oleh mesin V8. Mesin V8 tetap sanggup “bernyanyi”, meskipun tidak sebagus mesin V10. Raungannya tetap sanggup diterima oleh penggemar. Tetapi sesudah itu kasus keluar dikala harus diganti oleh mesin V6 dengan turbo.

Suara mobil F1 sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor. Jumlah silinder, bentuk konfigurasi mesin, penggunaan turbocharger atau supercharger, kecepatan maksimum mesin dan banyak lagi segi penentu bagaimana mesin “bernyanyi”. Anda sanggup menjelaskan bahwa masa kejayaan no F1 adalah di dalam dekade dari akhir 90-an hingga awal 2000. Mesin konfigurasi V10 mengaum terlampau keras dengan nada tinggi. Mesin 3.0 L dengan kapasitas 650 hingga 930 hp menghiasi konser di sirkuit di semua dunia selama 10 musim persaingan F1 sebelum harus diganti oleh mesin V8.

Mesin V8 tetap sanggup “bernyanyi” bahkan kecuali mereka tidak sebagus mesin V10. Raungannya tetap sanggup diterima oleh penggemar. Tetapi sesudah itu kasus keluar dikala harus diganti oleh mesin V6 dengan turbo. Saya idamkan menyebabkan semua pembaca untuk nikmati keindahan lagu sepeda motor F1 pada zaman itu dengan konfigurasi V10 dan V8. Mari kami dengarkan mesin ini lewat tautan video YouTube di bawah ini.

Posted In F1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *